Keindahan Pantai Tengkuyung - Wisata yang Belum Tergarap Warisan Kerajaan Kartamulia - Sang Maya

Sang Maya

Spoiler Review From Sang Maya

Breaking

Senin, 07 Agustus 2017

Keindahan Pantai Tengkuyung - Wisata yang Belum Tergarap Warisan Kerajaan Kartamulia


Keindahan Pantai Tengkuyung - Wisata yang Belum Tergarap Warisan Kerajaan Kartamulia - Pantai Tengkuyung terletak di desa Sungai Nibung Kecamatan Telok Pakedai Kabupaten Kubu Raya.  Saya bersama teman-teman dari komunitas English Travelling Community melakukan perjalanan ke Pantai Tengkuyung selama dua hari, yakni Sabtu 5 Agustus 2017 sampai 6 Agustus 2017. Ini merupakan perjalanan pertama saya ke Pantai Tengkuyung, dan trip ke tiga ETC

Perjalanan darat dari Kota Pontianak menuju Pantai Tengkuyung membutuhkan waktu kurang lebih 8 jam. Jika berangkat dari Kota Baru Ujung perkiraan jarak sekitar 92 Km. Akses lainnya bisa menggunakan speedboat dari Rasau. 

Infrastruktur jalan menuju Pantai Tengkuyung Desa Nibung banyak rusak dan masih jalan tanah, bahkan harus melewati jalan setapak yang tidak bisa dilewati kendaraan roda empat.  Bukan perjalanan yang mudah dan singkat, tetapi cukup sepadan dengan rasa yang didapatkan saat tiba di Pantai Tengkuyung

Ladang Gersang Telok Pakedai Kubu Raya


Jalan Setapak menuju Pantai Tengkuyung
 
Penyebrangan Telok Pakedai menuju Desa Nibung


Dermaga Telok Pak Kedai
     Dinamai Pantai Tengkuyung bukan hanya karena pantai ini memiliki banyak Tengkuyung, tetapi terdapat filosofi tersendiri mengenai nama Pantai Tengkuyung yang berasal dari dua suku kata, yakni Tengku dan Yung. Tengku adalah gelar tertinggi di kerajaan, sedangkan Yung adalah sebutan anak laki-laki tertua di dalam keluarga. Willayah Desa Sungai Nibung disebut juga dengan Desa Tanjung Bunga Kecamatan Telok Pak Kedai masuk sebagai wilayah Kerajaan Kartamulia. 
     Tengkuyung biasa dimakan oleh penduduk sekitar, dan paling banyak di temukan pada bulan desember. Selama 50 tahun lebih Pantai Tengkuyung tidak pernah kehabisan Tengkuyung, sayangnya tempurung-tempurung tengkuyung, keong dan kulit kerang yang sangat melimpah di Pantai ini belum dimanfaatkan menjadi berbagai kerajinan tangan atau sesuatu.



     Kami berangkat hanya berdelapan, Saya, Dede, Fika, Mb Ponti, Pica, Dinda, Bang Jemmy dan Acuy menggunakan motor. Sampai di lokasi Pantai Tengkuyung jam empat sore, air mulai pasang, dan kami bersegera membangun tenda. Pantai Tengkuyung saat ini memang memiliki homestay, tetapi belum dikelola sehingga belum bisa untuk disewakan kepada pengunjung yang datang.
     Sore hari setelah tenda berdiri kami menikmati sunset dengan pemandangan magis dan menyusuri tepian pantai. Moment seperti ini tentu saja kami tangkap dengan kamera seadanya, walau ada beberapa moment yang tidak bisa ditangkap kamera, seperti terangnya purnama yang menerangi kami saat malam hari, hamparan gugusan bintang dan puluhan bintang jatuh. Perasaan bahagia penuh syukur dapat melihat keindahan alam dengan moment yang menakjubkan ketika bintang jatuh lalu lalang di atas langit.

Kiri Ke Kanan : Pica -Dinda -Fika - Sang Maya -Acuy -Dede
Sunset di Pantai Tengkuyung

     Sejak tahun 1963, penduduk Desa Nibung sudah ramai, mencapai sekitar 700 KK, hanya saja karena terjadi abrasi pantai sehingga para penduduk terpaksa pindah berpencar ke beberapa daerah, antara lain Padang Tikar, Mengkalang, Sepok Kalang dan wilayah lain Kalimantan Barat. Saat ini penduduk Desa Nibung hanya terdapat 2 RT dengan 60 KK sekitar 500 jiwa. Penduduk sekitar banyak yang berasal dari keturunan suku Dayak Ahe dan Tiongha.
    Pada tahun 2009 Desa Sungai Nibung sempat mendapatkan bantuan 26 unit rumah dari Kementrian Kelautan, dan tahun 2010 mendapatkan bantuan solar cell di tiap rumah untuk penggunaan listrik di siang hari. sedangkan malam harinya penduduk tetap harus menggunakan genset. Bantuan terakhir di 2014

Solar Cell salah satu rumah warga Pantai Tengkuyung


     Ariyanto (43) bersama istrinya  Neni (41) adalah salah satu nelayan di Desa Nibung. Beliau lahir di sini, dan bersekolah di Pontianak. Keterbatasan sarana umum membuat Beliau menyekolahkan semua anak-anaknya di Kota Sungai Pinyoh yang masih ada saudaranya di sana. Ketika kami mampir ke rumah Beliau untuk wawancara dan tambal ban salah satu motor teman kami yang bocor karena tertancap tengkuyung, Pak Ariyanto berserta keluarganya sangat ramah dan terbuka dalam menyambut kami. Selain disuguhi minuman dan makanan, kami juga dipersilahkan untuk numpang mandi dan mencas hp. 
Kata Beliau ada tiga tali persaudaraan yakni :
1. Persaudaraan umat manusia 
2. Persaudaraan ukhuwah Islam
3. Persaudaraan sedarah

     Beliau bilang kami-kami yang datang ke rumah beliau adalah saudara ukhuwah Islam, dan saudara umat manussia. Belia juga banyak memberikan nasehat kepada kami tentang kehidupan, dimana untuk mencapai kesuksesan hidup haruslah yakin. "Orang yang taat belum tentu yakin. Orang yang yakin sudah tentu taat. Yakin dulu bahwa kita bisa." nasehat beliau kepada kami.

     Beliau menceritakan kehidupannya sehari-hari di Pantai Tengkuyung, dari perjuangan beliau untuk dapat bersekolah, sampai membangun rumah tangga dan membesarkan anak-anaknya sampai bisa sekolah ke perguruan tinggi di Pontianak.

     Sambil menunjukkkan telapak tangan, beliau berkata ada lima kebutuhan yang harus dipenuhi sehari-hari menurutnya adalah :
1. Kebutuhan amal di jari kelingking Rp 2.000 perhari
2. Kebutuhan silahturrahmi di jari manis Rp 5.000 perhari
3. Tabungan atau investasi di jari tengah Rp 10.000 perhari
4. Sandang di jari telunjuk Rp 5.000 perhari
5. Pangan di ibu jari Rp 30.000

     "Penghasilan saya rata-rata Rp 80.000 perhari, saya bagi untuk lima kebutuhan tersebut, sisanya untuk pendidikan anak-anak dan biaya tidak terduga." Ucap Pak Ariyanto kepada kami, agar kami juga dapat belajar bagaimana memanage keuangan dengan baik. 
     Pak Ari bilang ia memang orang kampung, lahir dan besar di kampung, tetapi dia tidak mau dirinya dan keluarganya kampungan. Pak Ariyanto jarang membaca buku ataupun mengkuti berbagai kajian maupun seminar, di desanya belum ada perpustakaan ataupun surat kabar harian, tetapi beliau mampu mengembangkan dirinya dengan pola pikir yang luar biasa sehingga menjadi orang yang menurut saya paling sukses dan kaya di desanya. Harapan beliau adalah akses jalan menuju Pantai Tengkuyung segera dibangun agar lebih banyak wisatawan yang datang.
 

Rumah Pak Ariyanto. Satu-satunya rumah bertingkat di Pantai Tengkuyung, dan menyediakan jasa tambal dan ganti ban

Kiri ke kanan : Pak Ariyanto - Jemmy Hariyanto - Pontiana Banjaria - Bu Neni
Pemandangan Depan Rumah Pak Ariyanto



 Baca juga tulisan berikutnya tentang 7 Keistimewaan Pantai Tengkuyung Desa Sungai Nibung.



4 komentar:

  1. Bersama English traveling community ya? Jadi, kapan nulis dalam English? Wkwk.
    Keren kak. Boleh nanti ajak aku ke sana. Dan tengkuyungnya kita bawa pulang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk kapan-kapan :D tapi pakai speed boat aja. pakai motor selap

      Hapus

  2. This info is priceless. When can I find out more? gmail log in

    BalasHapus