Bodas Novel Bagian 13 : Semua Kenangan Tentang Rumah - Sang Maya

Sang Maya

Full Time Mommy yang doyan baca, nulis dan jalan-jalan

Breaking

Tuesday, October 16, 2018

Bodas Novel Bagian 13 : Semua Kenangan Tentang Rumah


Cinta yang kuat dan berakar kokoh memiliki energi
yang tak bisa dihentikan. Cinta tersebut akan mengalir selamanya.”

Bodas Novel Bagian 13 : Semua Kenangan Tentang Rumah Masa kecil Bodas
Bodas Novel Bagian 13 : Semua Kenangan Tentang Rumah

Halaman rumah Kakek terdapat kolam ikan gabus. Aku menyukai olahan masakan dari ikan
gabus, dibakar penuh bumbu, digoreng renyah dengan tepung, dimasak asam pedas, bahkan dibuat ikan asin, sekalipun ikan ini jorok karena senang hidup di lumpur-lumpur. 

Kolam tersebut juga ada ikan betok yang banyak durinya, ikan gabus termasuk jenis karnivora, tidak hanya memakan cacing tetapi juga gemar memakan ikan-ikan kecil, jadi jika ikan lainnya yang mau tinggal dengan ikan gabus harus punya pelindung tubuh, yang membuat ikan gabus berpikir ulang untuk memangsa sebangsanya walau beda suku, atau memiliki kecepatan lari luar biasa seperti belut. 

Om Akmal menaruh beberapa kura-kura di kolam ini, jika beruntung kita dapat melihat kura-kura tersebut di tepi kolam. Pernah ketika musim hujan dan air kolam meluap, kura-kura itu keluar sehingga dapat aku ambil dan kupelihara beberapa saat di bak air yang cukup besar, tetapi kemudian aku masukkan ke kolam lagi. Om Akmal mengatakan biar banyak temannya sesuai alasan Om Akmal memasukkan kura-kura tersebut di dalam kolam.

⧫⧫⧫

Hal yang paling aku suka dari halaman rumah Kakek yang luas ini adalah banyak pohon buah. Tidak seperti pohon di rumah lainnya yang kebanyakan hanya pohon hias. Kabarnya pohon-pohon itu lebih mahal, dibandingkan pohon–pohon buah milik Kakek. 

Tetapi orang-orang yang dibilang kaya tersebut, tetap saja suka minta buah secara gratis pada Kakek dan Nenek apabila musim buah tiba. Tidak mereka minta pun Kakek dan Nenek suka membagi-bagikan ke tetangga-tetangga.

“Bodas sini,” panggil Nenek. “Ini ada sirsak kamu mau buah atau dibuat minumannya?”

“Dua-duanya, Nek.”

”Sirsaknya banyak banget, Nek. Kan kita sudah enggak punya pohonnya lagi. Nenek beli?”
tanyaku heran.

“Ini dikasi Maknyah Pingping, yang ini dikasi Ustaz Rusli, yang itu dari Bu Desi. Pohon sirsak kita memang sudah lama mati, tetapi waktu pohon sirsak itu hidup buahnya kan banyak sekali, jadi Nenek kasi ke tetangga dan mereka juga. Buah sirsak yang Nenek kasi ke mereka, bijinya ditanam. Sekarang sudah berbuah dan mereka bagi ke kita.”

“Oooh begitu…”

“Setiap kebaikan yang kita berikan, suatu saat pasti akan kembali lagi ke kita. Seperti buah sirsak ini.”

“Bahkan dapatnya jadi lebih banyak ya, Nek.”

“Itulah indahnya berbagi. Membuat kita lebih bahagia, banyak bersyukur, dan jadi panjang
umur.”

⧫⧫⧫


Pohon di halaman rumah Kakek banyak memberikan keberkahan, seperti pohon jambu air
yang buahnya berwarna merah terang, dan rasanya sangat manis, buahnya kujual dan hasil penjualan untuk membeli majalah Bobo atau menyewa buku bacaan.

Di samping pohon jambu air, berderet tiga buah pohon salak, yang daunnya banyak duri seperti jarum-jarum besar. Kenapa pohon salak ini banyak durinya ya? Merasa terancam dari bahaya apa?

Deretan pohon setelah salak yakni pohon pinang kuning yang tinggi. Daun pohon pinang berwarna hijau seperti daun pohon kelapa, tetapi lebih kecil bentuknya, tulang daun ini berwarna merah, jadi pohon ini memiliki banyak warna seperti pelangi saja. Abu-abu untuk batang yang sudah tua, kuning untuk batang yang masih muda, dan hijau merah pada daunnya.

Pohon pinang seingatku, tidak terlalu dimanfaatkan keluarga, buahnyapun tak bisa dimakan. Mungkin hanya untuk hiasan saja, soalnya bentuk pohon pinang agak-agak mirip dengan pohon palem putri milik tetangga.

Pohon jambu klutuk, atau biasa disebut jambu biji buahnya sebesar kepalan tangan orang
dewasa. Pucuk daun jambu biji, biasa direbus Nenek ketika ada salah satu anggota keluarga yang diare.

Aku termasuk orang yang paling sering dibuatkan oleh Nenek ketimbang anggota keluarga
lainnya, rasa rebusan daun jambu itu pahit memang, tapi sangat manjur menghentikan mencret. 

Buah dan daun muda tiga pohon melinjo, biasa dimasak menjadi sayur asem yang segar kesukaan Kakek dan Om Akmal. Melihat Nenek mengolah daun-daun menjadi jamu, dan makanan. Oleh karena itu aku mulai melakukan eksperimen dengan mencicipi semua daun-daun lainnya, seperti daun mangga muda, kemudian daun kedondong, dan daun jambu.

Hampir semua daun yang ada di halaman telah aku cicipi. Hanya daun pohon salak saja yang tidak aku makan, terlalu banyak durinya, bisa rusak bibir dan lidahku apabila mengunyahnya. Mungkin ini alasan pohon salak menginginkan daunnya berduri, supaya tidak dimakan oleh anak kecil yang penasaran sepertiku.

Bereksperimen memakan daun-daun tersebut mentah-mentah, membuat aku makin sering dibuatkan Nenek rebusan daun jambu biji klutuk, dan aku tidak kapok sama sekali karena berikutnya aku ingin mencicipi batang–batang pohonnya.


⧫⧫⧫

Aku menyukai dahan pohon yang besar–besar, sehingga menjadi tempat bersandar yang nyaman untuk membaca buku di atas pohon, atau sekadar istirahat siang. Hal ini kulakukan sambil menunggu teman-temanku datang menjemput bermain, atau mereka bergabung denganku memanjat pohon.

Terkadang aku berbaring di dahan besar pohon hanya untuk memperhatikan semut–semut
lewat, atau memperhatikan bias cahaya matahari yang menyilaukan, tetapi tampak indah. Seperti kepingan–kepingan kaca, yang sangat tipis tetapi berwarna-warni, dan bermunculan di antara dedaunan pohon mangga.

Pohon pertama sebagai tempat aku latihan memanjat, dan arena ketangkasanku melompat-lompat di dahan pohon, adalah pohon kedondong. Pohon kedondong kaya akan vitamin C. Buahnya biasa kujadikan bahan rujak, atau manisan. Tetapi bertambahnya waktu pohon ini pun mulai menua. Dahannya yang kokoh sekarang sudah patah, akibat sepupuku yang meloncat-loncat di dahannya seperti sedang main trampolin saja.

Ketika pohon kedondong sudah tidak pernah berbuah lagi. Kakek memutuskan untuk menebangnya lalu membakarnya. Hujan memadamkan pembakaran tersebut, dan Kakek tidak bisa membakarnya dalam waktu cepat. Setelah dua minggu hujan Kakek hendak membakarnya lagi tetapi tidak jadi.

“Coba lihat sini.” Kakek memanggilku yang sedang membantunya menyapu daun berguguran di halaman, tangannya menunjuk pada batang kayu kendondong, yang sebagian sudah hangus terbakar beberapa minggu lalu.

“Apa itu, Kek?” tanyaku karena batang kayu tersebut, banyak bermunculan benjolan berbintik–bintik kecil berwarna putih.

“Orang Aceh bilang ini kulat jumpung, kalau bahasa Indonesianya jamur merang, hanya tumbuh di daerah yang memang lembab,” papar Kakek padaku yang mulai menyentil–nyetil pelan pada benjolan putih–putih itu.

“Boleh kumakan.”

“Jamurnya masih kecil, tidak bisa dimakan mentah, tunggu aja seminggu lagi mungkin sudah mulai membesar, nanti kita panen sebagian bisa ditumis bersama sayur kangkung, rasanya pasti enak,” ucap Kakek sembari mulai menyapu halaman lagi bersamaku.

⧫⧫⧫

Halaman luas di belakang rumah, kebanyakan diisi dengan tanaman sayuran dan beberapa pohon. Ada pohon jambu mente, pohon jambu susu, dan pohon durian yang tidak pernah berbuah, dikarenakan pohon ini mandul kata Kakek.

Pohon pisang yang selalu bertunas di halaman belakang menjadi tempat tinggal kucing-kucing liar, jangan coba mendekati kucing-kucing ini, mereka sangat galak sekalipun sering dikasi makan oleh Kakek dan Nenek. 

Kucing- kucing kampung ini tidak takut untuk menyerang dengan cakar-cakarnya yang terlatih di tanah maupun dipohon untuk melukai manusia yang mendekati mereka ataupun hewan-hewan lainnya.

Pohon mengkudu yang suka dipakai Nenek daunnya apabila mau memasak sayur botok ikan kesukaan Kakek. Sayur-sayuran yang ada seperti tomat, cabe, kangkung.

Beberapa jenis jamur yang dapat dimakan dari batang pohon yang sudah lapuk. Buah labu,
terong, dan jenis umbi-umbian dari ketela, kacang tanah, kunyit, jahe, kencur, lengkuas, dan lebatnya tumbuhan daun pandan yang memagari parit comberan belakang yang banyak sampah. Tetapi tetap saja ikan-ikan gabus dapat hidup di limbah hitam berbau kotoran tersebut.

Batang pohon kelapa tinggi dan hanya sekali aku panjati. Waktu memanjat pohon tersebut
pertengahan batangnya sedang ada ular yang melilit. Aku kaget dan melepaskan pegangan pada batang pohon kelapa.

Berikutnya hampir sebulan lebih aku tidak bisa main sepeda. Akibat kaki dan tanganku terkilir dan retak hingga harus di gipsum karena jatuh dari pohon kelapa. Om Akmal bilang aku beruntung karena bukan kepalaku yang jatuh duluan.

Halaman belakang terdapat sumur tua yang terkadang masih suka digunakan Kakek untuk mengambil airnya. Aku tidak tahu berapa kedalaman sumur ini. Tetapi bila melihat kebagian
dalam, terasa menyeramkan karena gelap, dingin dan bau lumut basah yang kuat.

Sama halnya dengan sumur tua rumah kosong, bedanya sumur di rumah Kakek airnya sangat banyak dan berwarna keruh seperti warna tanah, sedangkan sumur di rumah kosong, airnya sedikit dan jernih sehingga bisa membuat gema apabila berteriak di dalam sumur.


⧫⧫⧫

Kakek bilang, rumah ini dibangun Belanda untuk kalangan bangsawan, tetapi sudah banyak
yang direnovasi. Ruang tamu, ruang tengah, ruang makan, dapur dan di setiap ruang- ruang yang ada pasti ada kamar tidur.

Di ruang tamu ada kamar yang pintunya berbeda dengan kamar-kamar yang lain. Pintu kamar ini benar-benar klasik desain dari jaman Belanda. Dulunya kamar dengan pintu klasik ini adalah kamar si Eyang, ibunya Kakek.

Setelah Eyang meninggal menjadi kamar Om Akmal, tetapi karena kamar tersebut menurutnya terlalu kecil ia pindah kamar yang berada di belakang dekat kamar mandi dan garasi, sehingga kamar berpintu klasik ini menjadi kamarku.

Ruang tengah juga terdapat sofa dan meja, di rumah ini kursinya kebanyakan berwarna coklat muda atau coklat tua, ada juga kursi antik dari besi yang dicat perak dengan tempat duduknya yang berbungkus kulit berwarna hijau.

Di ruang tengah yang luas, terdapat aquarium, tv, jam dinding antik, beberapa guci milik Ibu, perabotan, hiasan dinding, lampu gantung yang antik, dan ada permadani tebal yang terhampar.

Tidak heran terkadang apabila malam, rumah ini seperti rumah berhantu. Konon barang-barang antik yang ada di rumah ini, tidak hanya sudah ada dari zaman Belanda, tetapi ada yang berasal dari Dinasti Ming, empat abad silam lamanya.

⧫⧫⧫

Pintu dan jendela rumah ini klasik. Ada pintu yang sepenuhnya kayu tetapi bersirip, sehingga angin dan cahaya bisa masuk dari sirip–sirip miring tersebut. Ada pintu kayu, yang diberi kaca yang kusut. Jendela dengan kaca yang berwarna merah, kuning, dan hijau, dengan teralis besinya yang berbentuk layang-layang.

Aku suka menikmati duduk-duduk dekat jendela di waktu pagi, untuk menikmati udara segar
yang masuk, sambil membantu Nenek membuka segala aktifitas hari, atau duduk dekat jendela di malam hari, untuk menikmati tontonan gratis dari langit. Menatap kemegahan bintang yang bertaburan apabila langit malam itu tidak hujan.

Beberapa tempat tidur di rumah ini juga klasik, karena terbuat dari besi yang dicat hijau tua,
dan memakai kelambu berwarna coklat muda atau putih, atau kuning. Sarung bantal dan guling terdapat sulaman–sulaman bunga yang cantik, seakan ketika tidur dengan menggunakan bantal dan guling yang disarung sulaman tangan itu, kita bisa mencium aroma bunga yang wangi menenangkan, padahal tentunya tiap malam bantal dan guling tersebut sudah menampung iler kami di tiap malam.

⧫⧫⧫

Kepalaku timbul tenggelam di permukaan air. Ada yang menghalangiku untuk keluar dari air. Aku berjuang keras hanya untuk bernafas. Hidung dan mulutku mulai banyak kemasukan air, dadaku makin sesak, aku tenggelam. Diriku telah masuk ke dalam air. Semuanya mendadak terasa sunyi. Tuhan selamatkan aku. Aku belum ingin mati.

Aku terbangun terperanjat dari tempat tidur. Nafasku terengah-engah, seakan udara tidak masuk ke dalam paru-paruku. Tubuhku keringat dingin. Mimpi buruk initerjadi lagi dan lagi. Mimpi ketika diriku berada di dalam air.

Setelah nafasku teratur, aku kembali berbaring. Kutepuk bantalku beberapa kali. Nenek pernah bilang padaku apabila aku bermimpi buruk lagi tepuklah bantal beberapa kali, dan jangan lupa berdoa sebelum tidur. 

Aku menatap langit kamarku, berfikir kenapa mimpi diriku tenggelam mulai sering muncul lagi. Katanya aku pernah tenggelam di bak mandi. Apakah aku berenang di bak mandi? Kenapa aku bisa sampai tenggelam? Kenapa aku tidak memiliki ingatan apapun tentang itu dan sebelumnya-sebelumnya? Perlahan kupanjatkan doa kepada Tuhan. Kumohon agar Tuhan menunjukkan sebuah kebenaran akan masa laluku.

⧫⧫⧫


=====================================================================

1 comment: