Lomba Cerpen Ultah Gandjelrel
BLOG CONTEST,  MY OPUS

Kado Ulang Tahun

Sebenarnya Aku sudah tidak kaget lagi dengan kelakuan Mila istriku yang suka memungut hewan terlantar. Mulai dari burung, anjing, dan kucing. Dari sembilan ekor kucing yang diselamatkannya, lima diadopsi orang ketika kucing-kucing tersebut sudah bagus terawat.

Tiga anak anjing yang pernah dirawat Mila semuanya sudah diadopsi karena kepercayaan kami mengharamkan memelihara anjing tanpa alasan tertentu. Berbeda dengan burung, apabila sudah sehat akan dibebaskan begitu saja dari sangkar. Namun, yang dibawanya pulang ke rumah kali ini adalah anak manusia.

“HAPPY ANNIVERSARY SAYANG!!! Ini kado spesial dari aku, anak laki-laki.” Ucap Mila dengan kerlip mata berbinar.

“Anak siapa?” Tanyaku kaget.

“Anak kita.”

Anak kecil itu masih memegang tangan Mila dengan keduatangannya, saat tau aku melihatnya dia menundukkan kepalanya yang malah memperlihatkan boroknya. Rambutnya kusut berwarna coklat kemerahan, panjang sampai ke punggung. Tubuhnya kurus kering, bajunya kumal dan sudah bolong-bolong dibeberapa bagian. Lengannya ada warna biru lebam seperti di wajahnya.

“Acen, kenalkan ini suami Ibu. Mulai hari ini dia jadi ayahnya Acen.”

Eeeeeh…..yang benar saja!!! Ucapku dalam hati, mataku membelalak kaget ke arah Mila yang hanya melempar senyum manis padaku. Aku sampai susah untuk berkata-kata dengan apa yang barusan kulihat dan kudengar.

Tentunya aku menuntut penjelasan tentang asal usul anak ini. Tapi aku yakin Mila tidak mungkin melakukan penculikan. Sempat berharap ini hanya prank darinya, namun selama aku mengenal Mila sejak SMP, ia tidak pernah sekalipun melakukan keusilan.

“Sayang, aku bersihkan Acen dulu ya. Habis kita makan siang nanti baru aku ceritakan semuanya.” Ucap Mila yang lalu membawa Acen menuju kamar mandi.

***

Makan malam pesta ulang tahun pernikahan kami yang ke enam diadakan berbarengan dengan arisan keluarga. Suasana yang awalnya ramai mendadak hening sesaat ketika Mila mengenalkan Acen ke keluarga besar sebagai anak kami.

Setidaknya penampilan Acen sudah jauh lebih bersih dan wangi saat Mila memperkenalkannya ke keluarga besar. Untungnya sore tadi masih sempat kami membelikan Acen beberapa pakaian dan juga kami bawa ke tukang cukur rambut.

Aku juga sempat memberitahu ibuku via telpon bahwa Mila membawa pulang salah satu anak muridnya yang sudah ditelantarkan orangtuanya, dan sepertinya mengalami penganiyaan dari bibinya Acen.

EXCLUSIVE  Bodas Novel Bagian 7 : Rumah Kosong dan Sumur Tua

“Anak darimana Mila?” Tanya mertuaku. Jelas Mila belum mengabari Ayah dan Ibunya mengenai Acen.

“Anak dari Tuhan dong Ma.”

“Iya kamu juga anak dari Tuhan, tapi keluar dari perut mama bukan perut sapi! Ini anak siapa?” Mama mertua sewot dengan jawaban Mila.

“Acen ini sebenarnya muridnya Mila di kelas PAUD, tapi sudah tidak dirawat keluarganya. Orangtuanya sudah tidak tau pergi kemana. Jadi Mila bawa pulang aja dulu pas tadi berkunjung kerumahnya, soalnya Acen jarang masuk sekolah. Tadi saja dia dikurung dikamar loh, untung Mila keliling rumahnya, dan melihat Acen dari jendela.”

“Terus bagaimana caranya kamu bisa masuk ke rumahnya?”

“Minta tolong warga sekitar ngebobol pintu. Mila bilang ke mereka Acen nangis minta tolong kesakitan. Warga sana jadi pada tahu kalau Acen dianiyaya bibinya, bahkan tetangganya tadi cerita sering mendengar Acen menangis meraung-raung karena digebukkin, dan juga selalu ditinggal sendirian di rumah seharian sama bibinya. Mila ninggalin KTP di rumah pak RT sana saat izin bawa Acen.”

“Kakak ipar, kamu memang AMAZING!!!” Puji Rio adik laki-lakiku ke Mila sambil mengancungkan jempol berserta kedua paha ayam goreng tepung yang dipegangnya.

“ Makasi Rio.”

“Mama tetap tidak setuju kamu merawat anak ini, kalau kamu kecapekan gimana, aktivitas kamu sudah banyak. Nanti kamu malah susah hamil. Sudah kembalikan saja anak ini ke keluarganya atau titipkan ke panti asuhan.”

“Jika saja anak Mila masih hidup, mungkin sudah seusia Acen.” Mila mengusap kepala Acen dengan perlahan, matanya tampak berkaca-kaca.

“Yasudah, bagaimanapun kamu harus bertemu dengan orangtuanya Acen, atau paling tidak dengan bibinya terlebih dahulu, karena akan tetap ada proses hukum. Surat-suratnya harus jelas, sewa pengacara saja agar tidak ada masalah dikemudian hari.” Kata Ayah mertuaku yang merespon dengan rasionalitas dan sikap tenang.

***

Selama perjalanan dari Rumah Sakit, Acen tidak banyak bicara, ia masih mendekap erat buku bergambar yang dibacakan Mila tadi malam sebagai pengantar tidurnya. Buku karangan J.M Barrie yang mengkisahkan seorang pemimpin anak-anak hilang dan melakukan petualangan mereka di pulau Neverland sampai bertempur dengan Kapten Hook si bajak laut yang kejam. Sepertinya buku itu menjadi salah satu cerita favorit Acen saat ini.

Setelah selesai memeriksakan kondisi Acen ke dokter anak, kami juga membelikan Acen alat bantu dengar karena kondisi telinga kirinya tidak dapat mendengar. Sore ini kami ke rumah bibinya Acen untuk memulai proses adopsi sesuai prosedur, sekalipun bisa saja bibinya Acen kami laporkan ke polisi berbekal hasil pemeriksaan dokter dan luka fisik di tubuh Acen yang masih tampak jelas.

EXCLUSIVE  Serunya Kopdar Akhir Tahun Komunitas Blogger Semarang Bersama ASUS ZenBook Pro UX580GD

“Acen jangan kita serahkan ke bibinya ya Mas.” Ekspresi wajah Mila saat ini sama persis ketika berkunjung ke rumah temannya yang mengadopsi salah satu anjing yang pernah Mila rawat, namun kondisi anjing tersebut malah banyak luka dan kakinya patah. Sekalipun tampak tenang, aku tahu ia sekuat tenaga menahan marah.

***

Enam bulan berlalu, tanggal di kalender yang dilingkari warna merah olehku dan Mila merupakan hari penting. Yakni hari keputusan pengadilan mengenai keresmian pengangkatan Acen sebagai anak kami.

Acen ternyata termasuk anak yang aktif dan periang selama bersama kami. Tubuhnya mulai berisi karena makan teratur dengan asupan gizi yang baik. Awal pertama kali datang ke rumah kami berat Acen hanya 11 Kg, selama enam bulan naik sampai 19 Kg.

Acen senang bermain bersama kucing, dan membantu Mila dalam merawat anak-anak kucing. Acen juga senang menggambar sambil menemaniku mengerjakan pesanan design para klien. Aku lebih banyak bekerja di rumah sehingga Acen tidak pernah kesepian.

Kami cukup percaya diri untuk bisa menjadi orangtua yang baik bagi Acen. Selama kunjungan dari Dinas Sosial juga tidak ada masalah. Sehingga kami yakin pengadilan akan memberi keputusan bahwa Acen bisa menjadi anak angkat kami.

Sidang adopsi berlangsung cepat, tidak ada 20 menit. Palu pun telah di ketuk menyadarkan Aku dan Mila yang sempat kaget mengenai keputusan pengadilan bahwasannya Acen tidak bisa kami adopsi. Mamanya Acen yang selama ini kami cari mendadak muncul di pengadilan dan hendak membawa pergi Acen.

Acen menangis histeris saat di bawa paksa pergi mamanya, begitu juga Mila yang tidak mau Acen meninggalkannya. Mila sempat merebut Acen dari mamanya, tapi Mila  melepaskan tangannya saat Acen kesakitan karena ditarik juga oleh mamanya. Mila tidak ingin Acen makin kesakitan karena saling ditarik.

“Tolong sebentar saja izinkan kami bicara dengan Acen.” Pintaku ke Mamanya Acen namun tidak digubrisnya. “Saya bersedia mengirim uang bulanan untuk Acen asalkan Acen tetap sekolah.” Teriakku padanya sehingga membuat langkahnya yang terburu-buru berhenti seketika.

EXCLUSIVE  Bodas Novel Bagian 8 : Anak Berbaju Merah

Acen segera melepaskan dirinya dari mamanya dan langsung berlari ke arahku, Mila pun langsung memeluknya.

“Jika kami tidak bisa menjadi orantua angkatnya, izinkan kami menjadi orangtua asuhnya. Kami akan rutin mengirimkan uang agar Acen tetap bisa bersekolah dengan baik.” Ucapku pada ibunya Acen. Kami pun akhirnya bertukar nomor telpon.

Acen masih menangis sesenggukan tidak mau pergi dengan ibunya. Namun aku berjanji padanya untuk menjenguknya.

“Acen anak baik, anak pintar, mamanya Acen ingin tinggal sama Acen, jadi harus nurut ya sayang.” Ucapku pada Acen yang direspon dengan gelengan kepalanya. Berat hati kami membiarkan Acen dibawa pergi mamanya, tapi kami juga tidak punya hak memisahkan Acen dari mamanya yang sempat pergi meninggalkannya.

***

Tahun ini Acen mulai masuk ke Sekolah Dasar. Kami sempat ikut mengantarnya masuk sekolah di hari pertamanya, sekalipun Mamanya Acen kelihatan tidak suka dengan kemunculan kami dan masih bersikap dingin terhadap kami.

Sebenarnya kami ingin mengajak Acen makan malam di acara ulang tahun pernikahan kami minggu depan, tapi sayangnya Mamanya Acen tidak pernah mau mengizinkan Acen kami ajak jalan.

Akhirnya acara ulang tahun pernikahan kami yang kedelapan dirayakan sederhana seperti biasanya. Namun kali ini Mila sudah menyiapkan kado lagi untuk pernikahan kami yakni  kehamilannya yang kedua.

*** END ***

Note : Cerita ini adalah fiksi yang diikutsertakan dalam Lomba Blog Menulis Fiksi “Ulang Tahun” yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Semarang Gandjel Rel.

Kado Ulang Tahun
Lomba Cerpen Ultah Gandjelrel

 

 

 

 

Professional Dreamer yang lahir di Kota Khatulistiwa Pontianak 2 Agustus 1986 dan sekarang fokus menjadi penulis buku dan Mom Blogger. Pernah menempuh pendidikan formal di : MIN Bawamai Pontianak MTSN 1 Pontianak MAN Ponpes Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat. S1 di fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan Jogjakarta angkatan 2005. Pengalaman karir : - Head of Costumer Relation Management Dompet Dhuafa - Kaltim 2011-2014. - Wartawati media Suara Pemred 2014-2015. - Penggerak Pelapak bukalapak.com 2016-2017. Setelah menikah pada April tahun 2015 lebih memilih menjadi Ibu rumah tangga, dan entrepreneur independen baik secara offline maupun online. Komunitas yang diikuti : Nulis Buku Club Balikpapan 2012-2014, Readers Club Balikpapan Komunitas Blogger Pontianak. 2016 English Travelling Community 2017 Mini Lesson 2017 Blogger Perempuan 2017 Blogger Perempuan GandjelRel 2019 Hobies : Nonton, main game, baca buku, travelling, nulis, jualan dan menyebarkan semangat kebaikan dalam entreprenuer maupun kepenulisan. Karya : 1. BODAS (novel2016) 2. ONE SHOOT (antologi cerpen 2017)

11 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *