Ferry Hadary - Sekolah ke Jepang Bukan Masalah Pinter Gak Pinternya, Tapi Kerja Keras!!!
STORIES

Ferry Hadary – Sekolah ke Jepang Bukan Masalah Pinter Gak Pinternya, Tapi Kerja Keras!!!

Ferry Hadary – Sekolah ke Jepang Bukan Masalah Pinter Gak Pinternya, Tapi Kerja Keras!!!

INSPIRATION PEOPLE

Dr. Eng. Ferry Hadary ST,M.,Eng
Ferry Hadary - Sekolah ke Jepang Bukan Masalah Pinter Gak Pinternya, Tapi Kerja Keras!!!
Suatu ketika saat bantu-bantu EO temen dalam acara talkshow sukses di Perantauan, saya bertemu dengan Pak Ferry yang selaku pembicara, jadi aku sempetin wawancara aja sama beliau, tapi sayangnya hasil wawancaraku gak dimuat koran karena katanya sudah pernah dimuat, ntah edisi keberapa.
Orangnya ramah, dari penampilannya bakal susah disangka jika profesi beliau dosen. Pengalaman dalam hidup membuat beliau juga menjadi penulis buku. Pembelajaran dari pak Ferry bisa tentang merantaunya, menulisnya, dan tentunya semangatnya untuk selalu dapat menginspirasi orang lain.
Riwayat pendidikan Pak Ferry, SD Sempat di Ketapang sampai kelas 5 SD, karena ayahnya  kerja di Bank Kalbar jadi sering dipindahin tugas.
SMA dan S1 di Pontianak, lalu 3 tahun setelah kuliah mendapatkan kesempatan untuk menjadi peneliti zaika (suatu badan pendidikan yang ada di jepang), waktu itu mungkin memang karena kebetulan, tapi kan gak ada yang namanya kebetulan juga ada beberapa professor yang sering bolak-balik Pontianak dan suka memberikan semacam workshop selama seminggu, ada kerjasama antara zaika dengan jepang.
“Waktu itu saya menjadi seketaris di laboratorium, jadi saya pagi-pagi masih harus yang harus nyusun dan menyiapakan meja kursi, kadang sampai tidur di lab karena bujangan juga, dan sensei suka bawa peralatan yang mahal-mahal, jadi tidak ada tempat menyimpan, saya tidak enak meninggalkan laboratorium sehingga daripada jadi masalah saya menginap di laboratorium saja,” Ujar Pak Ferry.
Diceritakan oleh pak Ferry, dekan memberitahu untuk berangkat training ke Jepang sebagai pengkaderan, tapi tetap diseleksi dulu, direview segala macam layak atau tidak saya berangkat ke Jepang. kemudian lolos dan berangkat ke jepang, menjelang selesai training saya mendaftarkan diri untuk belajar di Jepang.
“Di Jepang berusaha menghemat sebisa mungkin, kemana-mana banyak jalan kaki dan untuk makan masak sendiri,” Kata Pak Ferry.
Sempat pulang ke Indonesia 10 hari untuk menikah, dan kemudian istri dibawa tinggal di Jepang, anak pertama meninggal, usia 2 hari, saya dan istri sangat sedih, sempat kebingungan untuk mengkebumikannya karena untuk dibawa ke Indonesia sangat mahal sekitar Rp.100 juta dan cukup ribet dengan beberapa advokasi, akhirnya izin untuk mengkebumikan di Jepang dengan membayar sekitar Rp. 3 jutaan.
Selama di Jepang banyak teman-teman saya menghabiskan waktu untuk jalan-jalan refreshing segala macam, sedangkan saya lebih senang menulis, awalnya menulis di blog tapi kemudian ditawarkan untuk dibukukan sehingga sudah 4 buku yang diterbitkan. Buku yang hanya sesuai bidang saya hanya satu saja, yang lainnya cerita.
Ferry Hadary - Sekolah ke Jepang Bukan Masalah Pinter Gak Pinternya, Tapi Kerja Keras!!!
EXCLUSIVE  5 Tempat Favorit Buka Puasa di Kota Pontianak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *