The Day After Covid-19

The Day After Covid-19

Jujur saja awalnya saya bingung mau nulis apa tentang  After Covid-19. Soalnya kapan wabah corona ini menghilang gak ada yang tahu persisnya kapan kan. Mana anjuran pemerintah untuk social  & physical distancing di Indonesia, sepertinya masih saja banyak yang ndableg! Jadi tulisan saya kali ini akan lebih banyak bercerita saja ya, sama harapan-harapan ketika wabah corona berlalu.

Berlangsungnya pandemi akibat Covid-19 tentunya berimbas pada banyak hal, sehingga banyak yang berharap kondisi ini segera berlalu walau entah kapan. Kebanyakan ingin bisa lagi liburan ke berbagai tempat wisata, jalan-jalan ke mall, nonton di bioskop, anak-anak SD juga merindukan untuk masuk sekolah, dan penghasilan dari pejuang nafkah harian dapat pulih kembali. Kalau saya pribadi jika wabah ini berlalu, InsyaAllah ingin pulang kampung ke Pontianak, kangen dengan keluarga di sana.

Before Covid-19

Sebelum terjadi pandemi, manusia beraktifitas seperti biasanya. Saya dan keluarga apabila pulang ke rumah habis berpergian tidak langsung cuci tangan pakai sabun, dan ganti baju. Biasanya ya leyeh-leyeh dulu. Seminggu sekali biasa jalan-jalan ke Semarang, atau jalan-jalan ke mall, mengajak anak bermain di Babyland atau playground, berenang, dan shalat berjamaah di mushola.

Pandemi Covid-19

Awal-awal pandemi diumumkan di Indonesia 2 maret 2020 . Sekolah diliburkan dan kebanyakan anak-anak tetangga masih diam di rumah saja, main dan belajar di rumah. Namun mulai awal April beberapa anak tetangga yang mulai bosan berada di rumah saja, membuat mereka menjadikan rumah saya sebagai base camp. Kata mereka senang bermain sama Queen dan numpang baca buku yang rak bukunya sengaja saya taruh di ruang tamu.

Baca Juga:  LAUTAN AWAN WISATA BUKIT JAMUR BENGKAYANG KALIMANTAN BARAT

Untungnya anak-anak tetangga pada nurut sebelum masuk rumah  harus tetap cuci tangan pakai sabun terlebih dahulu. Selain bermain, baca buku, dan belajar buat kue sama saya. Tanpa disuruh mereka suka bantu bereskan mainan Queen yang bertebaran di tiap sudut rumah dan menyapu halaman rumah. Sungguh anak-anak yang baik.

https://www.sangmaya.com/the-day-after-covid-19/
Rutin cuci tangan pakai sabun atau pakai hand sanitizer. (Pic : Myghty Racoon Channel)

Selama masa pandemi ini tidak ada aktivitas jalan-jalan ke tempat umum atau publik, bahkan untuk ikut shalat berjamaah saja jadi was-was pas ada yang batuk atau bersin gitu. Selama pandemi juga jadi makin rajin mencuci tangan dan kaki pakai sabun. Jika berpergian menggunakan masker, pulang ke rumah langsung ganti baju, terus cuci kaki dan tangan pakai sabun.

Suami saya malah lebih straight dalam menjaga kebersihan setelah dari berpergian dia pasti langsung mandi. Bahkan motor juga jadi rajin dicucinya. Coba sekalian aja ya suami cuci piring dan cuci baju kotor, nyapu, dan ngepel rumah. Tentu saya pasti makin senang.

Selama pandemi kami juga jadi lebih rutin minum minuman herbal yang dibuat sendiri. Biasanya kami buat minuman herbal seminggu atau dua minggu sekali, namun selama musim wabah kami membuat minuman herbal jadi dua atau tiga hari sekali. Bahan-bahannya jahe, kunyit, temulawak, serai, kayu manis, cengkeh, dan kayu secang. Meminum herbal tersebut bermaksud untuk menjaga imunitas tubuh.

Baca Juga:  Memaafkan Diri Sendiri dan Orang Lain

Menghadapi realita Covid-19

Menghadapi realita pandemi, tidak cukup dengan menjaga kebersihan dan pola hidup sehat saja. Karena semua lini juga terkena imbasnya. Siapapun harus tetap tenang dalam situasi saat ini. Karena pasti ada kejadian-kejadian di luar nalar seperti nyebar hoax, tetap mengadakan hajatan, pengajian akbar, borong sembako, beli senapan api, membebaskan para narapidana, penolakan pemakaman, rasisme, dan kalau disebutkan semua, bisa makin panjang nih tulisan.

Sayangnya manusia banyak memiliki ingatan yang pendek dalam mengingat sejarah. Dunia sudah pernah mengalami krisis akibat suatu wabah. Contoh wabah hitam (Black Death) pada tahun 134701351 di Eropa. Flu Spanyol tahun 1918-1919 yang menyebabkan 50 juta kematian di seluruh dunia. Flu asia, flu babi, flu burung, (Banyaknya flu ya), dan HIV Aids yang sampai saat ini penularannya masih bisa terjadi.

Jadi yang masih mengambil langkah waras untuk menghadapi realita covid-19 ini bisa dengan cara :

  • STAY AT HOME
  • Pakai masker dan tetap jaga jarak saat berada di luar rumah.
  • Tetap peduli terhadap yang membutuhkan bantuan APD untuk tim kesehatan yang berada di garda depan
  • Bantuan pangan bagi yang kurang mampu atau bagi keluarga yang pencari nafkahnya terkena Corona.
  • Berkebun sebisanya. Daripada nimbun makanan ya lebih baik memproduksi suatu bahan pangan.

Masa depan ditentukan oleh sikap, pilihan, pikiran, dan keputusan kita pada hari ini.

World After Covid-19

Transisi dari sebuah situasi krisis ke keadaan normal tidaklah semudah jalan-jalan di mall. Hal utama yang harus dilakukan adalah perbaikan ekonomi. Semoga saja kedepannya pemerintahan kita lebih siap dalam menghadapi krisis global semacam ini, atau lebih parah dari ini. Kayak serangan zombie atau yajuj ma’juj mungkin….

Baca Juga:  Apa Bagusnya Sih Jadi Blogger?
https://www.sangmaya.com/the-day-after-covid-19/
Pic : Myghtyracoon channel

Allah lah sebaik-baik perencana. Jika suatu saat nanti Covid-19 dinyatakan benar-benar hilang saya rasa kebiasaan mencuci tangan dengan sabun setelah berpergian akan tetap dilakukan. Sambil sekalian berwudhu, ada hikmahnya juga kan terjadinya pandemi ini. Selalu ada hikmah di balik musibah. Beberapa hikmah yang saya tangkap akibat terjadinya pandemi adalah :

  • Kita jadi makin sering membersihkan diri
  • Kita makin menjaga kebersihan lingkungan sekitar
  • Banyak pemberitaan yang mengatakan kualitas udara dan air di bumi makin bersih.
  • Panas bumi menurun, bahkan pencairan di kutub utara bekurang banyak.
  • Mengingatkan manusia akan kekuatan Allah bahwasannya tidak perlu sesutau yang besar untuk mengguncangkan dunia. Cukup dengan makhluk kecil bernama virus aja sudah kalang kabut manusia di bumi.

Teman yang hendak melangsungkan resepsi pernikahan mungkin akan segera menyebar undangan. Ada juga teman saya yang menahan diri tidak berangkat bersama keluarganya untuk meminang pujaan hatinya, pasti akan segera terbang untuk melamar.

Untuk urusan jalan-jalan after Covid-19 saya dan suami sepakat menunggu setidaknya dua atau tiga bulan dulu melihat situasi, agar benar-benar yakin kondisi sudah aman dari wabah.

Akhir kata saya ucapkan terimakasih untuk para petugas kesehatan, petugas kebersihan, petugas logistik,  dan semua orang yang saling membantu di masa krisis akibat pandemi ini.

stay at home dan stay safe semuanya ya.

 

16 thoughts on “The Day After Covid-19”

  1. Iya Mbak, pandemi ini sangat mengerikan ya, meskipun ada sisi baiknya juga. Yaitu bumi bisa recovery menjadi lebih baik, setelah selama ini ‘dizolimi’ oleh manusia.

    Namun bagaimanapun juga semoga pandemi ini bisa segera berakhir dan berharap setelah ini manusia bisa memelihara bumi dengan lebih baik.

  2. Iya kebiasaan baik selama Corona harus diteruskan ya, kalau aku pengen mudik ke Bogor dan pengen mulai nabung lagi, lumayan ngos-ngosan keuangan keluarga menghadapi Corona ini semoga cepat aman kembali ya aamiin

  3. bener banget mbak tentang kebiasaan cuci tangan , kayaknya kita sebagai emak emak gak perlu narik urat leher kenceng kenceng buat nyuruh anak cuci tangan, karena udah jadi kebiasaan,.

  4. Yang paling terasa banget pas ada wabah covid 19 ini, ya, soal kebersamaan sama keluarga sih, Mbak, untukku. Aku makin bisa melayani keluarga secara full, utuh. Karena ini yang aku impikan, alhamdulillah enjoy-enjoy saja stay di rumah. Tapi, ya, pengennya semua ini segera berlalu. Biar bisa ke mana-mana tanpa ada rasa khawatir yang berlebihan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *